NASKAH PUISI BAHASA INDONESIA UNTUK KELAS TINGGI (4-6) PERINGATAN HARI SUMPAH PEMUDA DAN BULAN BAHASA SD NEGERI 3 TAMBLANG
Sindu Putra
HUTAN TANTRI
binatang apa aku
aku diburu
penghuni hutan ini memburuku
bambu
kayu
unggas
ikan
hewan melata berkaki empat
“jadilah salah satu di antara kami
tak berumah
tak membawa api
atau
salah satu di antara kami
memakanmu
dalam perut
ada laut
jinakkan dirimu!”
anjing ayam babi
kambing kelinci kerbau
kuda macan monyet
naga tikus ular
binatang apa aku
aku berburu
Ibu
Oleh: Hilyati Muna
ibu, kau adalah matahari dalam hidupku
yang selalu menyinari hari-hariku
ibu, kau adalah bulan dalam malamku
yang selalu menerangi gelapnya
malamku
ibu, kau adalah mimpi dalam tidurku
yang selalu menemani tidurku
ibu, kau adalah pelangi
yang selalu mewarnai hari-hariku
oh, ibu
kau sangat berjasa dalam hidupku
ketika kusedih kaulah gembiranya
ketika kusakit kaulah obatnya
terima
kasih ibu
atas semua jasamu selama ini
tiada yang berjasa selain dirimu
ibu
Mas Ruscitadewi
UNTUK IBU I
Pada awal dan akhir senyumlah
Seperti warna pada kelopak bunga
Pada rupa mungkin mataku kan berpaling
seperti sangsimu pada bunga
menjadi buah
Jangan menangis
air mata hanya membias kesamaran
kesucianmu seperti akar
yang tumbuh menjadi
menjadi pohon dan bunga
Ibu,
Malam memang, kusuka
Karena memberiku mimpi dan angan
Tapi terang matamu adalah siang, adalah nyata
Dan garis yang kita lukis
Seantiasa sarat rasa
Hingga senyuman hanya bentuk krinduan pada jeda
Dan senyumlah
pada bunga mkar dari batangmu
pada bidadari yang lahir dari kasihmu
TIADAKAH KAU INGAT
Usmar Ismail Kepada Saudara
Tiadakah kau ingat lagi
saudara
Semasa kita sama menanggung
duka
Semasa siang dan malam suram
selalu
Terkurung di dalam kerangka
kaca berdebu ?
Tiadakah kau ingat lagi belenggu
Yang menyayat daging jiwa
mengilu
Yang mengekang segala hasrat
bergerak
Damba kejayaan penuh semarak
?
Di bawah tekapan langit
derita
Di atas tanah bertebaran duka
Masih saja kau
mengasing-asing
Masih saja kau tak ambil
pusing
Penderitaan rohani sehebat
itu
Tak mungkin juga mengikat kau
dan aku
Senantiasa kau tak acuh
menanggung sendiri
Jiwaku meratap digempur sunyi
. . . . . .
Ah, Tuhan tiadalah pedih
sepedih ini,
Tiadalah malam menerkam
sekelam itu,
Karena kutahu kau pun
berharap harap
Persatuan perjuangan kita
yang kekal tetap
Tiada kau insaf dalam
perceraian kar’na angkuh
Karena kau hanya hendak
melepas tubuh,
Tak pernah kau menganggapku
bagai saudara,
Saudaramu sejiwa, sedarah,
satu derita . . .
KITA ADALAH PEMILIK SAH REPUBLIK INI
(Taufik Ismail)
Tidak ada lagi pilhan lain. Kita harus
berjalan terus
karena berhenti atau mundur
berarti hancur
Apakah akan kita jual keyakinan kita
dalam pengabdian tanpa harga ?
Akan maukah kita duduk satu meja
dengan pembunuh tahun yang lalu
Dalam setiap kalimat yang berakhiran :
“Duli Tuanku?”
Tidak ada lagi pilihan lain. Kita harus
berjalan terus.
Kita adalah manusia bermata sayu yang di tepi jalan
mengacungkan tangan untuk oplet dan bus penuh
Kita adalah berpuluh juta yang bertahun hidup sengsara
dipukul banjir, gunung api, kutuk dan hama
Dan bertanya-tanya dalam diam, inikah namanya merdeka
Kita yang tak punya kepentingan dengan seribu slogan.
seribu pengeras suara yang hampa suara
Tidak ada lagi pilihan lain. Kita harus
berjalan terus.
Krawang –
Bekasi
oleh: Chairil Anwar
Kami yang kini terbaring antara
Krawang-Bekasi
Tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi
Tapi Siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami
Terbayang kami maju dan mendegap hati?
Kami bicara padamu dalam hening di
malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu
Kenang, kenanglah kami
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa
Memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
Kami Cuma tulang tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang tulang berserakan
Atau jiwa kami melayang untuk
Kemerdekaan kemenangan dan harapan
Atau tidak untuk apa-apa
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di
malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Menjaga Bung Sjahrir
Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang, kenanglah kami
Yang tinggal tulang tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi
Aku
Oleh: Chairil Anwar
Kalau sampai waktuku
Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih perih
Dan akan lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Komentar
Posting Komentar